1.349 Rumah di Tanah Laut Kalsel Terendam Banjir 1 Meter, 5.112 Jiwa Terdampak

Nani Suherni ยท Minggu, 12 Juli 2020 - 16:28 WIB
1.349 Rumah di Tanah Laut Kalsel Terendam Banjir 1 Meter, 5.112 Jiwa Terdampak
Banjir melanda Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Sabtu (11/7/2020). (Foto: iNews/BNPB)

JAKARTA, iNews.id - Sedikitnya 1.349 rumah terendam banjir di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Sabtu (11/7/2020). Banjir setinggi 1 meter yang melanda sebagian wilayah Kalsel ini dipicu tingginya curah hujan yang turun sejak pagi hingga sore.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Raditya Jati menjelaskan, berdasarkan pantauan Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Laut, hingga Sabtu pukul 20.00 Wita, total warga yang terdampak bencana banjir mencapai 1.535 kepala keluarga (KK) dan 5.112 jiwa.

Para korban tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pelaihari yang mencakup wilayah Kelurahan Sarang Halang, Karang Taruna, Angsau dan Desa Atu-atu. Kemudian di Kecamatan Bajuin, tepatnya di Desa Galam. Banjir juga melanda Desa Damit Hulu, Kecamatan Batu Ampar.

Selain merendam rumah warga, beberapa infrastruktur pun ikut terdampak. Di Kecamatan Sarang Halang, ada satu jembatan runtuh akibat derasnya luapan air sungai. "Sementara itu, dua jalan terputus dan tidak bisa dilalui kendaraan di Desa Damit Hulu dan Desa Galam," kata Raditya Jati dalam siaran pers yang diterima, Minggu (12/7/2020).

Adapun rincian daerah terdampak banji meliputi Kelurahan Angsau, Kecamatan Pelaihari. Di Jalan Pintu Air RT 24 Kelurahan Angsau, banjir merendam 200 rumah yang dihuni 250 KK atau 1.200 jiwa. Sementara di Jalan Ahman Yani Parit Mas RT 19, RT 20, dan RT 27, Kelurahan Angsau, ada 550 rumah yang terendam banjir. Banjir berdampak pada 600 KK atau 1.500 jiwa.

Selanjutnya di Jalan Sepakat RT 10, belakang Kompi, Kelurahan Angsau, terdapat 65 rumah yang terendam banjir dan dihuni oleh 70 KK atau 300 jiwa. Di Gang Berkat RT 04 Kelurahan Angsau, sebanyak 25 rumah yang dihuni 30 KK atau 100 jiwa. Lalu, di Jalan Manunggal atau belakang eks RSUD H Boejasin, RT 15, Kelurahan Angsau, ada empat rumah terendam banjir yang dihuni 4 KK atau 20 jiwa.

"Total rumah yang terendam 844 unit rumah. Sementara warga yang terdampak sebanyak 954 KK atau 3.120 jiwa," kata Raditya.

Selanjutnya di Desa Atu-Atu, Kecamatan Pelaihari, banjir terjadi di Jalan HM Jaferi, Desa Atu-Atu dan merendam 25 rumah yang dihuni 35 KK atau 100 jiwa. Selain itu di Saka Permai, Desa Atu-Atu, terdapat 15 rumah yang terendam banjir dan dihuni oleh 25 KK atau 160 jiwa.

"Total rumah yang terendam di Desa Atu-atu sebanyak 40 rumah. Sementara warga yang terdampak total 60 kk dan 260 jiwa," katanya.

Di Kelurahan Karang Taruna, Kecamatan Pelaihari, banjir merendam 104 rumah di Jalan Telaga Daim Blok I, II, III, dan Jalan Penerangan RT 10, Kelurahan. Karang Taruna. Warga yang terdampak sebanyak 135 KK atau 540 jiwa.

Sementara di Kelurahan Sarang Halang, Kecamatan Pelaihari, tepatnya di Jalan Bajingah, ada jembatan runtuh akibat derasnya luapan air sungai. Kemudian di Desa Damit Hulu, Kecatam Batu Ampar, di Jalan Trans 100, RT 6, Desa Damit Hulu, jalan terputus akibat derasnya luapan air dengan panjang 70 meter. Di Desa Galam, Kecamatan Bajuin, tepatnya di RT 6, jalan terkikis sehingga putus dan tidak bisa dilalui kendaraan.

"BPBD Kabupaten Tanah Laut, TNI, Polri, dan relawan lainnya telah turun ke lapangan membantu evakuasi dan mendata warga yang dilanda banjir," katanya.

Raditya mengatakan, melihat analisis dari InaRISK, wilayah Kabupaten Tanah Laut memiliki potensi bahaya banjir dengan kategori sedang hingga tinggi. Luas bahaya akibat banjir mencakup 137.000 hektare di 11 kecamatan. Sementara dari sisi risiko, 38 persen penduduk atau sekitar 123.172 jiwa di 11 kecamatan tersebut berpotensi terdampak banjir.

BNP mengimbau masyarakat untuk terus waspada dan siap siaga dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor dan banjir bandang. "Hujan dengan intesitas tinggi dan berlangsung cukup lama bisa menjadi salah satu indikator dalam menyikapi kesiapsiagaan masyarakat," kata Raditya Jati.


Editor : Maria Christina