Kebun Raya Banua Kembangkan Tanaman Jenis Obat Khas Kalsel

Nani Suherni ยท Minggu, 06 September 2020 - 09:49 WITA
Kebun Raya Banua Kembangkan Tanaman Jenis Obat Khas Kalsel
Kepala Seksi Penelitian dan Konservasi Tumbuhan ex-situ, UPT Kebun Raya Banua, Syahril Jayansyah saat memperkenalkan tanaman akar kuning berkhasiat menangkal racun (Foto: Dok Pemprov Kalsel)

BANJARBARU, iNews.id - Kebun Raya Banua, Banjarbaru mengembangkan jenis tanaman obat yang ada di Kalimantan Selatan (Kalsel). Salah satunya yakni, tanaman akar kuning yang berkhasiat menangkal racun.

Kepala Seksi Penelitian dan Konservasi Tumbuhan ex-situ, UPT (Unit Pelaksana Teknis) Kebun Raya Banua, Syahril Jayansyah berusaha mengumpulkan semua jenis tanaman untuk kesehatan yang ada di Kalsel

“Kita coba kembangkan tanama obat yang ada di Kawasan Kebun Raya Banua,” ucap Syahril dilansir dari website resmi Pemprov Kalsel, Minggu (6/8/2020).

Menurutnya, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam mengembangkan tanaman obat di Kebun Raya Banua. Salah satunya yaitu kualitas tanah yang tak subur.

“Lahan disini tidak subur, karena jenis tanah podsolid dan sebelumnya kawasan ini merupakam lahan bekas penambangan intan tradisional yang telah ditinggalkan masyarakat pada beberapa puluh tahun yang lalu,” ucapnya.

Oleh karena itu, pihaknya berusaha mengkondisikan tanaman itu untuk tumbuh di lahan yang tidak subur. Syahril menyampaikan, penelitian dilakukan bekerja sama dengan Unlam (Universitas Lambung Mangkurat) khususnya dengan fakultas Mipa program Studi Farmasi untuk mengadakan uji kimia, kandungan tanaman tersebut sebagai bahan penelitian.

“Tanaman tersebut kita uji di laboraturium untuk mengetahui kandungan yang terdapat. Sehingga bisa dibuktikan bahwa tanaman tersebut bisa menyembuhkan penyakit,” katanya.

Dalam pengembangannya, pihaknya mencoba melestarikan kayu pasak bumi, agar tanaman itu bisa berkembang Kebun Raya Banua.

“Karena pasak bumi merupakan salah satu tanaman obat Kalimantan untuk pembuatan jamu yang berkhasiat untuk mengembalikan stamina,” ucapnya.


Editor : Nani Suherni