Jurnal yang ditulis mahasiswa Arie Sulistyoko dan Anwar Hafidzi Fakultas Syariah UIN Antasari Banjarmasin "Tradisi Maantar Patalian Pada Perkawinan Masyarakat Adat Banjar Kalimantan Selatan" (Telaah Antropologis Dan Sosiologis) bahkan menyebutkan Baantar jujuran dalam adat Banjar.
Adat itu menandai hadiah, tanda telah menerima salam, di mana maantar jujuran tidak hanya total uang yang diberikan. Kemudian persediaan barang-barang penting untuk pengantin diberikan oleh mempelai laki-laki.
Tradisi Maantar menjadi sorotan masyarakat karena upacara ini hanya dihadiri oleh keluarga besar, saudara dan tetangga. Ketika menyerahkan uang jujur (mas kawin), ada modifikasi di tempat uang jujur.
Ini dengan demikian telah menggeser makna wadah uang kejujuran. Awalnya menurut adat, uang jujur yang diberikan oleh calon pengantin pria kepada calon pengantin, dimasukkan ke dalam keranjang yang biasanya digunakan untuk mencuci beras.
Jika jumlah uang sesuai dengan kesepakatan awal, maka uang itu dimasukkan kembali ke keranjang dan diserahkan kepada orang tua pengantin perempuan. Koleksi dan uang kejujuran harus disimpan dalam toples selama tiga hari tiga malam.
Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait