Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas pembakaran pabrik-pabrik tersebut.
Halaman Facebook kedubes China dibanjiri komentar negatif dalam bahasa Myanmar. Lebih dari setengah dari total 29.000 netizen yang memberikan reaksi menyertakan emoji wajah tertawa. Sentimen anti-China meningkat sejak kudeta yang menjerumuskan Myanmar ke dalam kekacauan.
Kawasan industri di Hlaingthaya didominasi oleh pabrik garmen. Sebagai kota industri, Hlaingthaya dihuni banyak pekerja migran dari berbagai kota di Myanmar.
Saat kebakaran terjadi, militer meningkatkan serangan dengan menembaki demonstran di pinggiran kota.
"Mengerikan, orang-orang ditembaki di depan mata saya. Ini tidak akan pernah hilang dari ingatan saya," kata seorang jurnalis foto yang meminta namanya tak dipublikasikan.
Militer memberlakukan keadaan darurat di Hlaingthaya serta distrik-distrik di Kota Yangon.
Stasiun televisi Myawadday yang dikelola militer melaporkan, pasukan keamanan bertindak setelah empat pabrik garmen serta pabrik pupuk dibakar dengan sengaja oleh orang tak dikenal. Setelah itu sekitar 2.000 orang memblokade kendaraan pemadam kebakaran yang hendak memadamkannya.
Sejauh ini militer enggan memberikan komentar terkait kejadian tersebut.
Dokter Sasa, seorang perwakilan anggota parlemen yang digulingkan oleh tentara, menyuarakan solidaritas terhadap rakyat Hlaingthaya.
"Para pelaku, penyerang, musuh rakyat Myanmar, serta SAC (Dewan Administrasi Negara) yang jahat akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap tetes darah yang tumpah," katanya.
Berdasarkan data AAPP, dengan 39 korban tewas ini, jumlah total kematian dalam unjuk rasa menentang kudeta Myanmar bertambah menjadi 126 orang serta lebih dari 2.150 orang ditahan, sebanyak 300 di antaranya telah dibebaskan.
Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait